Ketika Pohon Ringin Beteng Ungaran Dipangkas, Datangkan Spiritualis dari Getasan

Ketika Pohon Ringin Beteng Ungaran Dipangkas, Datangkan Spiritualis dari Getasan

Diposting pada

PUNCAK-MEDIA.COM: Ketika Pohon Ringin Beteng Ungaran Dipangkas, Datangkan Spiritualis dari Getasan, Seperti biasanya kami sebagai media yang ingin membuat perubahan dengan realnya informasi yang kami liput ini agar merangkum berita dengan sebenar-benarnya, agar kita sebagai masyarakat tidak salah membaca berita.

Pada kali ini Kami akan memberikan informasi terhangat dengan judul di bawah ini:

Ketika Pohon Ringin Beteng Ungaran Dipangkas, Datangkan Spiritualis dari Getasan

Petugas gabungan BPBD dan lintas instansi bersama relawan lintas komunitas bersiap-siap melakukan pemangkasan menggunakan gergaji mesin (sensho) dan tali pengaman untuk penebang, Jumat (19/2/2021). FOTO:ABI/UNGARANNEWS

PUNCAK-MEDIA.COM. UNGARAN BARAT- Pohon besar berdaun rindang berada di samping beteng Willem II Ungaran di Jalan Raya Diponegoro depan Kantor Bupati Semarang dipangkas, Jumat (19/2/2021). Masyarakat banyak menyebut pohon berusia ratusan tahun tersebut pohon Beringin, namun sebenarnya pohon Karet Kebo atau Karet Merah.

Prosesi pemangkasan pohon tetenger Kota Ungaran tersebut tentu tidak asal-asalan. Terlebih dahulu diadakan ritual dengan mendatangkan spiritualis Mbah Supar asal Getasan, Kabupaten Semarang. Sekedar mendoakan memohon perlindungan dan kekuatan Allah agar proses pemangkasan berjalan lancar dan aman.

“Tadi pagi sebelum pemangkasan dimulai diadakan doa bersama. Tujuan untuk doa keselamatan karena pohon sangat tinggi dan besar. Kita juga menghormati kearifan lokal untuk kelestarian Ringin Tua ini,” ujar Kepala Bidang Kelestarian Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Semarang, Budi Santoso di sela-sela pemangkasan.

Menurut Budi usia pohon Ringin tua diperkirakan seusia benteng Willem II, berdasarkan catatan sejarah dibangun tahun 1786. Cagar budaya ini juga disebut Beteng Oengaran itu dibuat pada zaman Belanda, ditanam pohon di sampingnya sebagai tetenger.

“Kita pangkas dahan bawah hingga atas agar tidak membahayakan orang di sekitarnya jika patah. Kegiatan ini diinisiasi Kabag Ops Polres Semarang melibatkan BPBD, DLH, DPU, dan rekan-rekan relawan SAR Bumi Serasi, Relinko, Nyawa Nyali Nyatnyono, dan lain-lainnya,” jelasnya kepada PUNCAK-MEDIA.COM, Jumat (19/2/2021).

Kabag Ops Polres Semarang Kompol Muh Aslam mengatakan, tujuan giat pemangkasan pohon Ringin untuk menjaga keselamatan pengunjung dan bangunan cagar budaya Beteng Willem II. Dahan pohon besar-besar dan lebat, usianya juga sudah sangat tua.

“Kita melakukan langkah antisipatif karena setiap hari banyak pengunjung dan wisatawan yang datang ke Beteng. Orang yang berteduh di bawah pohon juga banyak, tentu sangat membahayakan jika terjadi dahan patah,” jelasnya kepada PUNCAK-MEDIA.COM di sela-sela kegiatan.

Dijelaskan, cuaca ekstrem di musim penghujan disertai angin kencang perlu diwaspadai masyarakat, rawan terjadi pohon tumbang dan tanah longsor. Pohon tinggi yang berada di sekitar pemukiman warga, diimbau agar diperhatikan tingkat kerawanannya. Jika membahayakan sebaiknya ditebang atau dipangkas sekaligus untuk merapikan.

“Tadi kita datangkan Kiai dari Getasan (Mbah Supar, red) memimpin doa bersama untuk keselamatan giat pemangkasan pohon Ringin sekaligus mendoakan agar seluruh masyarakat terhindar bencana alam yang sering terjadi belakangan ini,” tandasnya. Baca Juga: Duerr! Pohon Tumbang di Gunungpati Ini Sebabkan Listrik di Sebagian Jawa Padam

Sesepuh warga Beteng Willem, Mulyo Utomo menjelaskan pohon Ringin tua sebenarnya bukan pohon Beringin melainkan pohon Karet Kebo atau Karet Merah. Diperkirakan karena usianya sudah tua hingga tumbuh menyerupai pohon Beringin.

“Jenisnya pohon Karet Kebo ceritanya dulu hanya untuk tanaman hias. Karena warga mempercayai ada hubungan dengan berdirinya Beteng pohon dibiarkan tumbuh besar sampai sekarang. Pohon ini kalau ditebang mengeluarkan getah, kalau pohon Beringin kan tidak. Di pucuk dahan muda juga muncul bunga merah berbentuk lancip,” jelasnya kepada PUNCAK-MEDIA.COM, seusai pemangkasan.

Menurut Dhe Tomo –panggilan akrabnya— sejak ia tinggal di dekat Beteng mengetahui pohon tersebut sudah tumbuh besar. Namun, terkait dengan mitos yang menyebutkan sebagai pohon keramat, dijelaskan pengurus Baguna ini, sejak dulu warga tidak pernah ada yang mengeramatkan. Dianggap sebagai pohon besar biasa yang perlu dilestarikan.

“Mungkin beda kalau pohon tua seperti Beringin banyak yang mengeramatkan. Ini kan pohon Karet Kebo, kalau besar ternyata lebih kuat daripada Beringin, meski berusia tua tidak lapuk,” jelasnya lagi.

Upaya melestarikan pohon ini, lanjut Dhe Tomo, ia mengambil beberapa pucuk muda untuk ditanam dengan cara stek. Ia berharap tanaman ini nantinya bisa dikembangkan secara masif, di samping jadi tanaman hias juga banyak manfaat untuk kesehatan, terutama daunnya yang rasanya pedas bagus untuk mengobati stroke, melancarkan darah, maag dan lain-lain.

“Tanaman hias Karet Kebo banyak sekali manfaatnya untuk kesehatan. Akarnya juga bagus untuk pengobatan. Mudah-mudahan dapat tumbuh dan bisa diperbanyak tanamannya,” tambahnya. (abi/tm)

Kesimpulan

Dari artikel di atas kami sengaja memberikan informasi dengan fakta yang sebenar-benarnya agar pembaca situs ini mencermati informasi yang kami sajikan dengan cersa. semoga artikel ini bermanfaat bagi saya dan anda semua.

Note

Artikel ini di ambil dari beerbagai Sumber, dan kami merangkum kembali dengan di tulis ulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *