Nilai muatan atom dalam suatu molekul atau ion adalah

Biloks atau bilangan oksidasi adalah sesuatu yang biasa kau jumpai saat belajar kimia. Sebuah atom akan memiliki muatan positif dan juga negatif. Penentuan positif dan negatif ini berasal dari cita-cita sebuah atom untuk menjadi stabil melalui proses transfer elektron, sebuah atom mampu melepas atau mendapatkan sejumlah elektron.

Untuk menentukan apakah sebuah atom bernilai positif, kau mampu melihat apakah dia sudah melepas sejumlah elektron atau tidak. Sedangkan untuk atom negatif, kau mampu menilai apakah atom tersebut sudah mendapatkan sejumlah elektron dari atom lain. Jumlah muatan positif dan juga negatif dalam suatu atom mampu kita sebut sebagai biloks atau bilangan oksidasi.

Bacaan Lainnya

Apa itu Biloks

Biloks adalah singkatan dari bilangan oksidasi yang mampu kita definisikan sebagai jumlah muatan negatif dan positif dalam atom, yang secara tidak eksklusif menawarkan jumlah elektron yang telah diterima atau diserahkan ke atom lain. Beberapa atom hanya mempunyai satu biloks, namun ada beberapa atom yang mempunyai lebih dari satu biloks. Kalau kau menemukan nilai dari sebuah bilangan atom pada suatu molekul ataupun senyawa, maka kau harus mengetahui terlebih dahulu biloks atom unsur lainnya yang mempunyai sifat umum (standar).

Anggaran dalam Menentukan Biloks

Untuk menentukan biloks suatu atom, ada beberapa aturan yang mampu kau pahami, beberapa diantaranya adalah:

a. Sapta oksidasi unsur bebas (atom atau molekul unsur) adalah 0 (nol).

Model: Ne, H2, O2, Cl2, P4, C, Cu, Fe dan Na.

b. Sapta oksidasi ion monoatom dan poliatom sama dengan muatan ionnya.

Model : ion monoatom Na+, Ca2+, dan Cl– memiliki bilangan oksidasi berturut-turut +1, +2 dan -1.

Model : ion poliatom NH4+, SO42-, dan PO43- memiliki bilangan oksidasi berturut-turut +1, -2, dan -3.

c. Sapta oksidasi unsur dari golongan IA adalah +1 dan unsur dari golongan IIA adalah +2, dan golongan IIIA adalah +3

Model: Misalnya, bilangan oksidasi unsur Na (unsur golongan IA) pada senyawa NaCl, Na2SO4, dan Na2O adalah +1. Sapta oksidasi unsur Ca (unsur golongan IIA) pada senyawa CaCl2, CaSO4, dan CaO adalah +2. Sapta oksidasi Al (Unsur golongan IIIA) dalam senyawa Al2O3 adalah +3.

d. Sapta oksidasi unsur golongan VIA pada senyawa biner adalah -2 dan unsur golongan VIIA  pada senyawa biner adalah -1.

Model: Sapta oksidasi unsur S (unsur golongan VIIA) pada Na2S dan MgS adalah -2. Sedangkan bilangan oksidasi unsur Cl pada NaCl, KCl, MgCl2, dan FeCl3 adalah -1.

e. Sapta oksidasi unsur H yang berkaitan pada senyawa logam adalah +1, apabila berkaitan dengan senyawa non-logam -1.

Model: Sapta oksidasi unsur H pada H2O, HCl, H2S, dan NH3 adalah +1. Sapta oksidasi unsur H pada senyawa hidrida adalah -1. Misalnya, bilangan oksidasi unsur H pada NaH, CaH2, dan AlH3 adalah -1.

f. Sapta oksidasi oksigen (O) dalam senyawa peroksida = -1. Sapta oksidasi O dalam senyawa non-peroksida = -2.

Model: Sapta oksidasi unsur O pada senyawa peroksida, mirip H2O2 dan BaO2 adalah -1.

Model Soal

Tentukan bilangan oksidasi atom unsur N pada senyawa dibawah ini:

N2O5

Jawab:

Biloks akan ditandai dengan X

Muatan N2O5 yaitu (2 x biloks N) + (5 x biloks O)

0 = (2 x (x)) + (5 x (-2))

0 = 2x – 10

x = +5

Jadi, bilangan oksidasi atom N pada senyawa N2O5 yaitu +5.

Nah itu dia pengertian, aturan, dan juga contoh dari biloks atau bilangan oksidasi. Apakah ada hal yang membuat kau galau? Kalau ada, kau mampu menuliskannya di kolom komentar. Dan jangan lupa untuk menawarkan pengetahuan ini ke orang banyak!

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.Morbi adipiscing gravdio, sit amet suscipit risus ultrices eu.Fusce viverra neque at purus laoreet consequa.Vivamus vulputate posuere nisl quis consequat.

Create an account

Ion[1] adalah suatu atom atau molekul yang memiliki muatan listrik total tidak nol (jumlah total elektron tidak sama dengan jumlah total proton). Kation adalah ion bermuatan positif, sedangkan anion adalah ion bermuatan negatif. Oleh sebab itu, sebuah molekul kation memiliki sebuah proton hidrogen tanpa elektron, sedangkan anion memiliki elektron ekstra. Oleh sebab muatan listriknya yang berlawanan, kation dan anion saling tertarik satu sama lain dan mudah membentuk senyawa ionik.

Ion yang hanya berisi satu atom disebut ion monoatomik atau ion atomik, sementara yang berisi dua atau lebih atom membentuk ion molekuler atau ion poliatomik. Dalam hal ionisasi fisik dalam suatu media, misalnya gas, “pasangan ion” tercipta dari tumbukan ion, di mana masing-masing pasangan yang terbentuk mengandung elektron bebas dan ion positif.[2] Ion juga tercipta melalui interaksi kimia, misalnya pelarutan garam dalam cairan, atau dengan cara lain, melewatkan arus searah melalui larutan penghantar yang melarutkan anode melalui ionisasi.

Kata ion berasal dari bahasa Yunani: ἰόν, ion, “sedang pergi”, kata kerja bentuk sedang dari bahasa Yunani: ἰέναι, ienai, “pergi”. Istilah ini diperkenalkan oleh fisikawan dan kimiawan Inggris Michael Faraday pada tahun 1834 untuk menyebut spesies tak dikenal yang pergi dari satu elektrode ke elektrode lain melalui media berair.[3][4] Faraday tidak mengetahui sifat spesies ini, tetapi ia mengetahui bahwa saat logam larut ke dalam dan memasuki larutan pada satu elektrode, logam baru muncul dari larutan pada elektrode lainnya; zat tersebut telah bergerak melalui larutan dalam suatu arus. Ini membawa materi dari satu kawasan ke kawasan lain.

Faraday juga memperkenalkan kata anion untuk ion bermuatan negatif, dan kation untuk ion bermuatan positif. Dalam tatanama Faraday, kation dinamakan demikian sebab mereka tertarik ke katode dalam perangkat galvani dan anion dinamakan demikian sebab mereka tertarik ke anode.

Baca Juga :  Aplikasi Penghasil Uang 2020 Terbukti Membayar Tanpa Undang Teman

Svante Arrhenius mengajukan penjelasannya, pada disertasinya tahun 1884, bahwa faktanya garam kristal padat terdisosiasi menjadi pasangan partikel bermuatan saat melarut. Disertasinya ini membuat Arrhenius memperoleh Nobel Kimia tahun 1903.[5] Klarifikasi Arrhenius adalah bahwa dalam pembentukan larutan, garam terdisosiasi menjadi ion-ion Faraday. Arrhenius mengusulkan bahwa ion terbentuk meskipun tanpa adanya arus listrik.[6][7][8]

Ion dalam keadaan seperti gasnya bersifat sangat reaktif dan akan cepat berinteraksi dengan ion yang memiliki muatan berlawanan menghasilkan molekul netral atau garam ionik. Ion juga dihasilkan dalam keadaan cair atau padat saat garam berinteraksi dengan pelarut (misalnya, air) menghasilkan “ion tersolvasi”, yang lebih stabil. Ion-ion bergerak saling menjauhi untuk berinteraksi dengan cairan dengan alasan yang melibatkan perubahan energi dan entropi. Spesies yang terstabilkan ini lebih banyak dijumpai di lingkungan bertemperatur rendah. Model umum adalah ion yang terdapat dalam air laut, yang berasal dari garam-garam terlarut.

Seluruh ion memiliki muatan, yang berarti, mirip objek-objek bermuatan lainnya, mereka:

  • tertarik dengan muatan listrik yang berlawanan (positif kepada negatif dan sebaliknya),
  • menolak muatan sejenis
  • saat bergerak, trayektori (lintasan) mereka dapat dibelokkan oleh medan magnet.

Elektron, sebab massanya yang kecil sehingga sifat menempati Puncak-media.comnya yang besar dianggap sebagai gelombang materi (bahasa Inggris: matter wave). Ini menentukan seluruh ukuran atom dan molekul yang memiliki elektron. Anion (ion bermuatan negatif) lebih besar daripada molekul atau atom induknya, sebab kelebihan elektron saling tolak-menolak satu sama lain sehingga menambah ukuran fisik ion, dan ukurannya ditentukan oleh awan elektronnya. Dengan demikian, secara umum, kation berukuran lebih kecil daripada atom atau molekul induknya sebab ukuran awan elektronnya juga lebih kecil. Kation hidrogen tidak memiliki elektron sama sekali, sehingga hanya memiliki proton tunggal – jauh lebih kecil daripada atom hidrogen.

Anion dan kation

 

Atom hidrogen (tengah) mengandung sebuah proton dan sebuah elektron. Penghilangan elektron menghasilkan kation (kiri), sementara penambahan elektron menghasilkan anion (kanan). Anion hidrogen, dengan dua awan elektronnya yang renggang, memiliki jari-jari yang lebih besar daripada atom netralnya, yang pada gilirannya jauh lebih besar daripada kationnya yang berupa proton telanjang. Hidrogen hanya membentuk kation bermuatan +1 yang tidak memiliki elektron. Namun, meskipun kation tersebut memiliki satu atau lebih elektron (tidak mirip hidrogen), ukurannya tetap lebih kecil daripada atom atau molekul netralnya.

Oleh sebab muatan listrik pada proton secara besaran adalah sama dengan muatan elektron, muatan listrik netto suatu ion adalah sama dengan jumlah proton dalam ion dikurangi jumlah elektron.

Anion (−), berasal dari bahasa Yunani: ἄνω (ánō), yang berarti “naik”,[9] adalah ion dengan jumlah elektron lebih banyak daripada proton, menghasilkan muatan netto negatif (sebab elektron bermuatan negatif dan proton bermuatan positif).[10]

Kation (+), berasal dari bahasa Yunani: κάτω (káto), yang berarti “turun”,[11] adalah ion dengan jumlah elektron lebih sedikit daripada proton, menawarkan muatan positif.[12]

Terdapat dua nama tambahan yang digunakan untuk ion dengan muatan banyak. Misalnya, ion dengan muatan −2 dikenal sebagai dianion dan ion dengan muatan +2 dikenal sebagai dikation. Ion zwitter adalah molekul netral dengan muatan positif dan negatif di beberapa kawasan yang berbeda dalam molekul tersebut.[13]

Kation dan anion ditentukan berdasarkan jari-jari ion dan keduanya memiliki ukuran yang relatif berbeda: “Kation berukuran kecil, sebagian besar memiliki jari-jari kurang dari 10−10 m (10−8 cm). Sebaliknya, sebagian besar anion berukuran besar, seperti anion bumi yang paling umum, oksigen. Berdasarkan fakta ini, tampak bahwa sebagian besar Puncak-media.com pada kristal ditempati oleh anion dan bahwa kation termuat di dalam Puncak-media.com-Puncak-media.com di antaranya.”[14]

Sebuah kation memiliki jari-jari kurang dari 0,8 × 10−10 m (0,8 Å) sementara anion memiliki jari-jari yang lebih dari 1,3 × 10−10 m (1,3 Å).[15]

Keterjadian alami

Ion di alam ada di mana-mana dan bertanggung jawab untuk beragam fenomena dari pendaran Matahari sampai eksistensi ionosfer Bumi. Atom dalam keadaan ioniknya dapat memiliki warna yang berbeda dari atom netral, dan dengan demikian penyerapan cahaya oleh ion logam menawarkan warna batu permata. Dalam kimia organik maupun anorganik (termasuk biokimia), interaksi air dan ion sangatlah penting; contohnya adalah energi yang mendorong gangguan adenosin trifosfat (ATP). Bagian berikut menjelaskan konteks di mana fitur ion menonjol; dan disusun sesuai penurunan skala panjang fisik, dari astronomis ke mikroskopis.

Ion dapat disiapkan secara non-kimia menggunakan banyak sekali sumber ion, biasanya melibatkan tegangan tinggi atau suhu. Ion digunakan dalam banyak perangkat mirip spektrometer massa, spektrometer emisi optik, akselerator partikel, implanter ion, dan mesin ion.

Sebagai partikel bermuatan yang reaktif, mereka juga digunakan dalam pemurnian udara dengan cara mengganggu mikrob, dan pada peralatan rumah tangga mirip detektor asap.

Oleh sebab pensinyalan dan metabolisme dalam organisme dikendalikan oleh gradien ionik yang sempurna melintasi membran, gangguan gradien ini berkontribusi terhadap kematian sel. Ini adalah mekanisme umum yang dieksploitasi oleh biosida alami dan buatan, termasuk saluran ion gramisidina dan amfoterisin (fungisida).

Ion anorganik terlarut adalah komponen dari padatan terlarut total, indikator kualitas air yang dikenal luas.

Deteksi radiasi pengion

 

Skema bejana ion, menawarkan pergerakan elektron. Elektron bergerak lebih cepat daripada ion positif sebab massanya yang jauh lebih ringan.[2]

Baca Juga :  Infinix Note 12 Meluncur Di Indonesia Berikut Spesifikasi Dan Harganya

 

Imbas longsoran antara dua elektrode. Ionisasi awalnya membebaskan satu elektron, dan masing-masing tumbukan selanjutnya membebaskan elektron lebih banyak, sehingga dua elektron muncul dari masing-masing tumbukan: elektron pengion dan elektron yang dibebaskan.

Imbas pengion radiasi pada gas banyak digunakan untuk mendeteksi radiasi mirip partikel alfa, beta, sinar gama dan sinar-X. Kejadian ionisasi awalnya pada instrumen ini menghasilkan pembentukan suatu “pasangan ion”; ion positif dan elektron bebas, melalui tumbukan ion oleh radiasi pada molekul gas. Bejana ionisasi adalah bentuk paling sederhana detektor ini, dan mengumpulkan semua muatan yang terbentuk melalui ionisasi eksklusif di dalam gas yang diaplikasikan melalui medan listrik.[2]

Tabung Geiger-Müller dan pencacah proporsional keduanya menggunakan fenomena yang dikenal sebagai longsoran Townsend (bahasa Inggris: Townsend discharge) untuk melipatgandakan efek dari peristiwa pengion asli dengan menggunakan efek air terjun di mana elektron bebas diberikan energi yang cukup oleh medan listrik untuk melepaskan elektron lebih lanjut melalui tumbukan ion.

 

Tiga cara penulisan atom besi (Fe) yang kehilangan dua elektron, dikenal sebagai fero bahasa Inggris: ferrous.

Saat menulis rumus kimia sebuah ion, muatan nettonya ditulis sebagai superskrip di belakang struktur kimia molekul/atom. Kalau muatan netto lebih dari 1, maka nilainya ditulis sebelum tanda; yaitu, untuk kation bermuatan ganda ditulis sebagai 2+ dan bukan +2. Untuk muatan tunggal, nilainya tidak perlu ditulis, misalnya kation natrium ditulis sebagai Na+ dan bukan bukan Na1+.

Cara alternatif (dan dapat diterima) untuk menawarkan molekul/atom dengan muatan banyak adalah dengan menuliskan tandanya beberapa kali, ini acapkali terlihat pada logam transisi. Kimiawan kadang-kadang melingkari tanda muatannya; ini semata-mata kosmetik dan tidak menawarkan makna kimia apa-apa. Ketiga penulisan Fe2+ yang ditunjukkan pada gambar adalah ekivalen.

Ion monoatomik kadang-kadang ditulis dengan angka Romawi; misalnya, Fe2+ kadang-kadang ditulis sebagai Fe(II) atau FeII. Sapta Romawi menawarkan keadaan oksidasi formal suatu unsur, sementara angka superskrip menawarkan muatan bersih atau muatan netto. Bagaimanapun, kedua notasi tersebut untuk ion monoatomik adalah sama, tetapi angka Romawi tidak dapat digunakan untuk ion poliatomik. Namun, dimungkinkan untuk mencampur notasi untuk sentra logam dengan kompleks poliatomik, mirip ditunjukkan dalam contoh ion uranil.

 

Campuran notasi bilangan Romawi dan muatan untuk ion uranil. Keadaan oksidasi logam ditunjukkan sebagai superskrip bilangan Romawi sementara muatan seluruh kompleks ditunjukkan sebagai tanda sudut yang disertai angka dan tanda muatan bersih.

Sub-klas

Kalau suatu ion mengandung elektron bebas, ia disebut ion radikal. Mirip radikal tak bermuatan, ion radikal sangat reaktif. Ion poliatomik yang mengandung oksigen, mirip karbonat dan sulfat, disebut oksianion (oxyanion). Ion molekular yang mengandung sekurang-kurangnya satu ikatan karbon-hidrogen disebut ion organik. Kalau muatan dalam ion organik secara formal terpusat pada suatu karbon, maka ia disebut karbokation (kalau bermuatan positif) atau karbanion (kalau bermuatan negatif).

Pembentukan

Pembentukan ion monoatomik

Ion monoatomik terbentuk sebab atom memperoleh atau kehilangan elektron pada kelopak valensinya (kulit elektron paling luar). Cangkang bagian dalam atom diisi dengan elektron yang terikat erat dengan inti atom yang bermuatan positif, sehingga tidak berpartisipasi dalam interaksi kimia mirip ini. Proses menerima atau kehilangan elektron dari atom atau molekul netral disebut ionisasi.

Atom dapat terionisasi dengan bombardir menggunakan radiasi, tetapi proses ionisasi yang lebih umum dalam ilmu kimia adalah perpindahan elektron antar atom atau molekul. Perpindahan ini biasanya dipicu oleh pembentukan konfigurasi elektron yang stabil (“cangkang tertutup”). Atom akan mendapatkan atau melepas elektron tergantung aksi mana yang energinya lebih rendah.

Sebagai contoh, sebuah atom natrium, Na, memiliki sebuah elektron pada kelopak valensinya, mengitari 2 kelopak stabil yan masing-masing berisi 2 dan 8 elektron. Oleh sebab kelopak yang terisi penuh ini sangat stabil, maka atom natrium cenderung kehilangan kelebihan elektronnya dan memperoleh konfigurasi stabil, menjadi kation natrium melalui proses

Na → Na+ + e−

Sebaliknya, sebuah atom klorin, Cl, memiliki 7 elektron pada kelopak valensinya, hanya kekurangan satu elektron untuk terisi penuh 8 elektron dan menjadi stabil. Oleh sebab itu, atom klorin cenderung mendapatkan kelebihan elektron dan memperoleh konfigurasi stabil 8 elektron, menjadi anion klorida melalui proses:

Cl + e−Cl−

Kesamaan ini yang menyebabkan natrium dan klorin mengalami reaksi kimia, yang mana “kelebihan” elektron dipindahkan dari natrium ke klorin, membentuk kation natrium dan anion klorida. Dengan muatan yang berlawanan, kation dan anion ini membentuk ikatan ionik dan bergabung untuk membentuk natrium klorida, NaCl, yang lebih umum dikenal sebagai garam dapur.

Na+ + Cl− → NaCl

Pembentukan ion poliatomik dan molekular

 

Peta potensial elektrostatik ion nitrat (NO3). Kelopak 3-dimensi menggambarkan kawasan isopotensial.

Ion poliatomik dan molekular acapkali kali terbentuk sebab mendapatkan atau kehilangan ion elemental mirip proton, H+, dalam molekul netral. Sebagai contoh, saat amonia, NH3, mendapatkan proton, H+—suatu proses yang disebut protonasi—ia membentuk ion amonium, NH+4. Amonia dan amonium memiliki jumlah elektron yang sama, begitu pula konfigurasi elektronnya, tetapi amonium memiliki kelebihan proton yang menjadikannya bermuatan positif.

Amonia dapat juga kehilangan sebuah elektron sehingga bermuatan positif, membentuk ion NH•+3. Namun, ion ini tidak stabil, sebab memiliki kelopak valensi yang tidak lengkap di sekeliling atom nitrogen, sehingga membuatnya menjadi ion radikal yang sangat reaktif.

Mengingat ion radikal tidak stabil, ion poliatomik dan molekular biasanya terbentuk melalui penangkapan atau pelepasan ion elemental mirip H+, dan bukannya menangkap atau melepas elektron. Hal ini memungkinkan molekul memiliki konfigurasi elektron yang stabil meskipun muatan listriknya berubah.

Baca Juga :  Download Honey Live Mod Apk Unlimited Money Unlock Room

Potensial ionisasi

Energi yang diperlukan untuk melepaskan sebuah elektron pada tingkat energi terendahnya dari suatu atom atau molekul gas dengan muatan listrik paling sedikit disebut potensial ionisasi, atau energi ionisasi. Energi ionisasi ke n suatu atom adalah energi yang diharapkan untuk membebaskan elektron ke n setelah elektron n − 1 pertama telah dilepaskan.

Setiap energi ionisasi yang berturut-turut lebih besar daripada yang terakhir. Kenaikan yang sangat besar terjadi setelah blok orbital atom apapun kehabisan elektron. Berdasarkan alasan ini, ion cenderung terbentuk dengan cara yang meninggalkan blok dengan orbital penuh. Misalnya, natrium memiliki satu elektron valensi pada kelopak terluarnya, sehingga bentuk terionisasi biasanya dijumpai dengan kehilangan satu elektron, sebagai Na+. Di sisi lain tabel periodik, klorin memiliki tujuh elektron valensi, sehingga dalam bentuk terionisasi biasanya dijumpai dengan kelebihan satu elektron, sebagai Cl−. Sesium memiliki energi ionisasi terendah dari semua unsur sementara helium yang tertinggi.[16] Secara umum, energi ionisasi logam jauh lebih rendah daripada energi ionisasi nonlogam, sehingga, secara umum, logam akan kehilangan elektron membentuk ion bermuatan positif, sementara nonlogam akan memperoleh elektron membentuk ion bermuatan negatif.

Ikatan ionik

Ikatan ionik adalah suatu ikatan kimia yang muncul dari tarik menarik antara ion-ion yang bermuatan berlawanan. Ion dengan muatan sejenis saling tolak menolak, sedangkan yang bermuatan berlawanan saling tarik menarik. Oleh sebab itu, ion biasanya tidak berdiri sendiri, tapi terikat dengan ion yang bermuatan berlawanan membentuk kisi kristal. Senyawa yang terbentuk disebut senyawa ionik, dan terikat oleh ikatan ionik. Dalam senyawa ionik terdapat jarak karakteristik antara ion-ion yang bertetangga, yang adalah sumber penentuan ekstensi spasial dan jari-jari ion ion individu.

Jenis ikatan ionik yang paling umum terlihat pada senyawa logam dan nonlogam (kecuali gas mulia, yang jarang membentuk senyawa kimia). Logam dikarakterisasi dengan memiliki sejumlah kecil elektron yang melebihi konfigurasi elektronik kelopak tertutup yang stabil. Dengan demikian, mereka memiliki kecenderungan kehilangan elektron ekstra ini untuk mencapai konfigurasi yang stabil. Sifat ini dikenal sebagai elektropositivitas. Nonlogam, sebaliknya, dicirikan memiliki konfigurasi elektron kekurangan sedikit elektron untuk mencapai konfigurasi stabil. Oleh sebab itu, mereka memiliki kecenderungan untuk menarik elektron untuk mencapai konfigurasi stabil. Kesamaan ini dikenal sebagai elektronegativitas. Saat logam yang sangat elektropositif digabungkan dengan nonlogam yang sangat elektronegatif, kelebihan elektron dari atom logam dipindahkan ke atom logam yang kekurangan elektron. Reaksi ini menghasilkan kation logam dan anion nonlogam, yang saling tertarik satu sama lain membentuk garam.

Ion-ion umum

Kation-kation umum[17]
Nama umum Rumus Nama historis
Kation sederhana
Aluminium Al3+
Barium Ba2+
Berilium Be2+
Kalsium Ca2+
Kromium(III) Cr3+
Tembaga(I) Cu+ kupro
Tembaga(II) Cu2+ kupri
Hidrogen H+
Besi(II) Fe2+ fero
Besi(III) Fe3+ feri
Timbal(II) Pb2+ plumbo
Timbal(IV) Pb4+ plumbi
Litium Li+
Magnesium Mg2+
Mangan(II) Mn2+
Raksa(II) Hg2+ merkuri
Kalium K+
Perak Ag+ argento
Natrium Na+
Stronsium Sr2+
Timah(II) Sn2+ stano
Timah(IV) Sn4+ stani
Seng Zn2+
Kation poliatomik
Amonium NH+4
Hidronium H3O+
Raksa(I) Hg2+2 merkuro
Anion umum[17]
Nama formal Rumus Nama lain
Anion sederhana
Azida N3
Bromida Br−
Klorida Cl−
Fluorida F−
Hidrida H−
Iodida I−
Nitrida N3−
Oksida O2−
Sulfida S2−
Oksoanion (Ion poliatomik)[17]
Karbonat CO2−3
Klorat ClO3
Kromat CrO2−4
Dikromat Cr2O2−7
Dihidrogen fosfat H2PO4
Hidrogen karbonat HCO3 bikarbonat
Hidrogen sulfat HSO4 bisulfat
Hidrogen sulfit HSO3 bisulfit
Hidroksida OH−
Hipoklorit ClO−
Monohidrogen fosfat HPO2−4
Nitrat NO3
Nitrit NO2
Perklorat ClO4
Permanganat MnO4
Peroksida O2−2
Fosfat PO3−4
Sulfat SO2−4
Sulfit SO2−3
Superoksida O2
Tiosulfat S2O2−3
Silikat SiO4−4
Metasilikat SiO2−3
Aluminium silikat AlSiO4
Anion dari asam organik
Asetat CH3COO− etanoat
Format HCOO− metanoat
Oksalat C2O2−4 etanadioat
Sianida CN−
  • Pengion udara (Air ionizer)
  • Aurora
  • Detektor ionisasi gas (Gaseous ionization detector)
  • Bekas ion (Ion beam)
  • Pertukaran ion
  • Radiasi pengion (Ionizing radiation)
  • Daftar keadaan oksidasi unsur kimia
  • Daya penghenti partikel radiasi (Stopping power of radiation particles)
  • Ioliomik (Ioliomics)
  1. ^ “Ion” entry in Collins English Dictionary.
  2. ^ a b c Knoll, Glenn F (1999). Radiation detection and measurement (edisi ke-3rd). New York: Wiley. ISBN 0-471-07338-5. 
  3. ^ Michael Faraday (1791-1867). UK: BBC. 
  4. ^ “Online etymology dictionary”. Diakses tanggal 2011-01-07. 
  5. ^ “The Nobel Prize in Chemistry 1903”. www.nobelprize.org. 
  6. ^ Harris, William; Levey, Judith, ed. (1975). The New Columbia Encyclopedia (edisi ke-4th). New York City: Columbia University. hlm. 155. ISBN 0-231035-721. 
  7. ^ McHenry, Charles, ed. (1992). The New Encyclopædia Britannica. 1 (edisi ke-15). Chicago: Encyclopædia Britannica, Inc. hlm. 587. ISBN 085-229553-7. 
  8. ^ Cillispie, Charles, ed. (1970). Dictionary of Scientific Biography (edisi ke-1). New York City: Charles Scribner’s Sons. hlm. 296–302. ISBN 0-684101-122. 
  9. ^ Oxford University Press (2013). “Oxford Reference: OVERVIEW anion”. oxfordreference.com. 
  10. ^ University of Colorado Boulder (November 21, 2013). “Atoms and Elements, Isotopes and Ions”. colorado.edu. 
  11. ^ Oxford University Press (2013). “Oxford Reference: OVERVIEW cation”. oxfordreference.com. 
  12. ^ Douglas W. Haywick, Ph.D.; University of South Alabama (2007–2008). “Elemental Chemistry” (PDF). usouthal.edu. 
  13. ^ Purdue University (November 21, 2013). “Amino Acids”. purdue.edu. 
  14. ^ Frank Press & Raymond Siever (1986) Earth, 14th edition, page 63, W. H. Freeman and Company ISBN 0-7167-1743-3
  15. ^ Linus Pauling (1960) Nature of the Chemical Bond, hlm. 544, di Google Books
  16. ^ Chemical elements listed by ionization energy. Lenntech.com
  17. ^ a b c “Common Ions and Their Charges” (PDF). 

Diperoleh dari “https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ion&oldid=17963295”

Pos terkait