11 Mitos Pernikahan, Jangan Harap Ada ‘The One’

Jakarta, puncak-media.com Indonesia – Salah satu alasan banyak pernikahan kandas adalah ekspektasi dari pasangan suami-istri yang ketinggian. Hal ini dikemukakan psikolog sekaligus konsultan pernikahan, Roger Allen.

Menurut dia, ada banyak mitos pernikahan yang beredar luas tentang seperti apa institusi suami-istri seharusnya berjalan. Padahal, realita tak selalu sesuai dengan teori yang digembar-gemborkan.

Bacaan Lainnya

Alhasil, ketika dihadapkan dengan situasi sulit, pasangan suami-istri kerap cekcok gara-gara masing-masing punya ekspektasi yang tak realistis. Allen membeberkan 11 mitos pernikahan yang bisa jadi acuan bagi kalian yang hendak atau sedang menjalani pernikahan, dirangkum puncak-media.com Indonesia dari Mother.ly, Senin (23/1/2023).

1. Pernikahan tidak akan melengkapi hidup dan memperbaiki kekurangan Anda

Banyak orang yang yakin melangkah ke pernikahan dengan harapan pasangan dapat melengkapi hidup mereka. Bahkan, ada kalimat template seperti “kamu melengkapiku” (you complete me).

Lantas, mereka akan mudah menyalahkan pasangan jika tidak berhasil membuat mereka merasa ‘lengkap’. Menurut Allan, cara pandang ini sebaiknya diubah.

“Anda telah lengkap sebagai manusia, dan Anda bertanggung jawab untuk membuat diri Anda lengkap,” Allan menyarankan.

2. Tak ada yang namanya ‘the one’

Mitos pasangan sebagai belahan jiwa satu-satunya banyak ditemui di buku dongeng dan film yang menjanjikan happy ending. Namun, menurut Allan, pemikiran seperti ini akan menjadikan pasangan suami-istri sebagai beban.

Pasalnya, di luar sana ada banyak manusia yang bisa saja Anda temui, nikahi, dan bersama-sama membangun rumah tangga yang menyenangkan. “Bukan cuma satu orang di luar sana,” Allan mengingatkan.

3. Pernikahan bukan kebahagiaan selama-lamanya

Lagi-lagi, konsepsi tentang pernikahan sebagai akhir cerita bahagia kerap ditemui di film-film drama romantis. Akan tetapi, hidup seyogyanya seperti air yang terus bergulir dengan pasang-surutnya.

“Semua pernikahan punya tantangannya sendiri. Siapa pun yang Anda nikahi, akan ada masa sulitnya. Ingat saja bahwa sesuatu yang berharga tidak datang dengan gampang,” kata Allan.

4. Anda tidak harus mencintai pasangan Anda setiap saat dalam pernikahan

Nyatanya, emosi dan perasaan bisa datang dan pergi seperti awan di langit. Adalah normal jika ada saatnya Anda dimabuk asmara, lalu merasa apatis, hingga merasa jengkel sampai ingin bercerai.

“Kenali emosi-emosi ini sebagai sesuatu yang natural, bukan indikasi bahwa Anda berada dalam pernikahan yang buruk,” Allan menjelaskan.

5. Perbedaan pendapat dan konflik itu normal

Menurut Allan, pasangan yang harmonis bukan berarti punya pemikiran dan perasaan yang sama setiap saat. Nyatanya, perbedaan bisa menjadi peluang untuk belajar dan tumbuh bersama-sama menjadi pasangan yang kuat.

6. Tidur dalam keadaan marah bukan kesalahan

“Jangan tidur dalam keadaan marah,” adalah nasihat umum yang kerap diberikan orang tua kepada pasangan suami-istri baru. Hal ini, menurut Allan, tidak realistis.

“Jika Anda kesal dengan pasangan dan belum mampu menuntaskannya pada hari itu, sangat wajar untuk tidur dengan perasaan kesal,” ia menyebutkan. Tidur di malam hari memberikan Anda waktu untuk tenang dan punya perspektif yang segar di pagi hari.

7. Pasangan tidak selalu tahu apa yang Anda mau, meskipun dia sangat mencintai Anda

Pasangan bukan cenayang. Anda harus memberi tahu apa yang Anda butuhkan dan rasakan. Namun, seringkali kita merasa bahwa perubahan pasangan menjadi tidak bernilai ketika harus diberi tahu terlebih dahulu.

“Tak ada orang yang tahu isi kepala Anda. Jika terus-terusan memiliki ekspektasi ini, Anda akan berakhir kecewa,” kata Allan.

8. Kebahagiaan Anda adalah tanggung jawab Anda

Pekerjaan utama Anda adalah memastikan diri Anda merasa aman, bahagia, cerdas, sehat, dan seterusnya. Tentu saja sangat wajar jika ingin pasangan selalu ada dan merespons kebutuhan Anda. Namun, ekspektasinya jadi tidak sehat jika Anda hanya berharap semua hal baik datang dari pasangan tanpa berupaya sendiri.

9. Pernikahan yang baik dimulai dari Anda

Sangat gampang untuk fokus pada pasangan Anda, seperti apa yang seharusnya dan tidak seharusnya mereka lakukan. Namun, perlu dicatat bahwa Anda juga memiliki peran yang sama besarnya untuk menciptakan kenyamanan pada hubungan suami-istri.

“Ini bukan tentang menyalahkan pasangan atau diri Anda sendiri. Namun, ini tentang keinginan untuk bertanggung jawab dan belajar dari setiap pilihan yang diambil,” Allan menerangkan.

10. Meningkatkan kualitas pernikahan Anda adalah proses selamanya

Hubungan pernikahan yang baik tidak terjadi dalam satu malam. Membangun pondasi yang kokoh butuh waktu, pengalaman, usaha yang berdedikasi, dan komitmen.

11. Kaji ulang ekspektasi Anda

Hubungan pernikahan akan menjadi perjalanan yang indah di mana dua orang bersama-sama mencari arti, kepuasan, dan cinta. Perjalanan itu akan jauh lebih mudah jika dibarengi dengan ekspektasi yang tidak muluk-muluk.

Tak perlu mematok ekspektasi sesuai dengan harapan khalayak banyak atau keluarga sekalipun. Anda yang paling tahu kebutuhan dan visi bersama dengan pasangan.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Wejangan Jokowi, dan Gibran Jelang Pernikahan Kaesang & Erina

(tib)


Pos terkait