Bukan ‘Tsunami’ PHK, ‘Tsunami’ Resign Hantui Dunia Tahun Ini

Jakarta, puncak-media.com Indonesia – Meski pemberitaan soal pemutusan hubungan kerja (PHK) mewabah, namun survey terbaru Linkedin membeberkan fakta mengejutkan. Karyawan di Asia rupanya lebih percaya diri dengan kemampuan mereka dan malah lebih siap untuk resign (berhenti) tahun ini.

Hal ini terlihat dari riset konsumen LinkedIn terbaru yang dilakukan di antara lebih dari 4.000 karyawan di Singapura, Australia, dan India. Menurut penelitiannya, 63% karyawan di India dan sekitar 43% di Australia dan Singapura mengatakan bahwa mereka “lebih percaya diri” dalam mencari pekerjaan baru dibandingkan tahun 2022.

Bacaan Lainnya

“Bahkan dengan ketakutan resesi, para pekerja juga menunjukkan ketahanan yang lebih dan siap untuk mengatasi setiap penurunan ekonomi yang akan datang,” tambah LinkedIn dikutip puncak-media.com International, Rabu (18/1/2023).

“Keyakinan dan optimisme yang kami lihat dari para profesional menunjukkan bahwa mereka menunjukkan ketahanan yang lebih tinggi pascapandemi untuk mengatasi dampak apa pun yang mungkin ditimbulkan oleh lingkungan yang tidak pasti,” kata pakar karier dan kepala editorial untuk Asia-Pasifik di LinkedIn, Pooja Chhabria.

Sejumlah hal menjadi alasan mengapa banyak pekerja mungkin tidak ingin bertahan lama di pekerjaan mereka dan siap untuk berganti pekerjaan. Berikut di antaranya:

1. Inflasi

Menurut LinkedIn, meningkatnya inflasi dan tekanan biaya hidup akan mendorong karyawan untuk mencari pekerjaan lain yang bergaji lebih tinggi. Penelitiannya menemukan bahwa aspirasi untuk mendapatkan gaji yang lebih besar telah muncul sebagai alasan utama untuk mencari pekerjaan.

Sebanyak 58% dari mereka yang disurvei di Singapura misalnya, mengatakan bahwa mereka hanya bersedia bertahan di posisi mereka saat ini selama uang lebih. Hal sama juga terjadi di Australia dan India, dengan 49% dan 45%.

2. Work-life balance

Hal ini terkait kelelahan karyawan dan pentingnya meluangkan waktu untuk hidup di luar pekerjaan atau work-life balance. Keseimbangan kehidupan kerja yang lebih sehat akan terus menjadi prioritas utama bagi karyawan tahun ini.

Dalam survei, hal ini dikatakan 30% responden. Baik dari India, Singapura, dan Australia.

Yang harus menjadi perhatian pemberi kerja di wilayah ini adalah karyawan yang terlalu banyak bekerja yang tidak merasa memiliki komitmen pribadi terhadap pekerjaan mereka saat ini. Menurut LinkedIn, 75% pekerja yang disurvei dari Singapura mengidentifikasi diri mereka seperti itu, bersama dengan 66% dari Australia dan 51% dari India.

“Ini kemungkinan akan menyebabkan gesekan karena para profesional ini merasa mereka tidak akan berada dalam peran mereka saat ini untuk waktu yang lama,” tambah LinkedIn.

3. Pertumbuhan karir

Pertumbuhan karir menjadi salah satu hal yang mendasari mengapa seseorang resign. Penelitian LinkedIn mengungkapkan bahwa 67% karyawan di Australia dan 68% dari Singapura percaya bahwa perusahaan mereka tidak berinvestasi dalam pertumbuhan mereka.

“Kurangnya pertumbuhan atau kemajuan karir di tempat kerja tetap menjadi salah satu alasan utama orang melepaskan diri dan ingin berhenti dari pekerjaan mereka,” kata Chhabria.

“[Karyawan] ingin perusahaan berinvestasi pada mereka dengan memberikan kesempatan belajar dan pengembangan untuk mempelajari keterampilan baru dan membuktikan karir mereka di masa depan,” jelasnya.

[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)


Pos terkait