Cara Pasang Set Top Box TV Digital, Hindari STB Boot Terus

Jakarta, puncak-media.com Indonesia – Setelah pulau Jawa, siaran TV analog juga akan dimatikan di kota besar lain di luar Jawa. Masyarakat harus mulai beralih ke TV digital dengan menggunakan pesawat televisi yang siap digital atau memasang set top box.

Dirjen IKP Kementerian Kominfo, Usman Kansong menjelaskan di awal tahun ini pihak Lembaga Penyiaran Swasta (LPS) mengajak untuk bisa melakukan ASO di sejumlah kota Nielsen luar Jawa. Namun pihak Kominfo tidak merekomendasikannya karena rata-rata distribusi STB masih di bawah 10%.

Bacaan Lainnya

Lima kota yang termasuk dalam Nielsen di luar pulau Jawa dan belum ASO adalah Medan, Palembang, Makassar, Denpasar, dan Banjarmasin. Sementara itu kota-kota di Pulau Jawa sudah beralih ke siaran digital.

“Mereka mengusulkan dilakukan ASO secepatnya di awal tahun. Kita periksa ternyata distribusi STB masih di bawah 10% kita jangan dulu perbaiki distribusi STB,” kata Usman.

Untuk masyarakat yang belum menggunakan pesawat TV digital, berikut cara setting STB di TV analog:

Cara Pasang STB ke TV

Anda tak perlu membeli TV baru untuk menonton siaran digital. TV analog bisa menyiarkan siaran digital jika menggunakan STB. Ini cara menggunakannya:

1. Pastikan daerah sudah tersedia siaran televisi digital
2. Pastikan memiliki antena UHF, yakni antena luar Puncak-media.coman dan dalam Puncak-media.coman
3. Selain itu juga memastikan TV telah dilengkapi dengan set top box DVBT2 untuk menerima siaran TV digital
4. Setelah TV terhubung, hidupkan perangkat TV dan ubah ke AV. Berikutnya pilih opsi pengaturan dan pilih auto scan untuk memindai program siaran TV digital.

STB mudah panas

Karena perangkat yang baru digunakan, banyak pertanyaan masyarakat soal TV digital. Beberapa pertanyaan masyarakat terkait STB yang mudah panas dan STB yang boot terus menerus sehingga tak bisa digunakan.

Menurut Wakil Ketua Bidang Regulasi Asosiasi Gabungan Perusahaan Industri Elektronik dan Alat-alat Listrik Rumah Tangga Indonesia (Gabel) Joegianto, panasnya suatu STB dikarenakan kurangnya perhatian pada komponen pendingin.

Kurangnya perhatian pada suatu komponen faktornya bisa jadi ke pengaruh harga. Ia menduga 90 persen STB yang cepat panas berasal dari perangkat yang berharga murah.

Saya duga 90 persen yang cepat panas itu, mohon maaf… kalau mau ngejar murah kan setiap penambahan komponen pasti masuk dalam faktor harga. Itu biasanya casingnya dibuat besi, biar agak dingin, kelemahannya body-nya bisa agak nyetrum,” ujarnya kepada puncak-media.com Indonesia, Selasa (17/1/2023).

Hal senada diungkap Ketua Umum Asosiasi Industri Perangkat Telematika Indonesia (Aipti) Ali Soebroto. Ia menyebut bahwa STB panas terjadi karena desain power supply kurang bagus, sehingga efisiensi atau power supply-nya rendah, dan membuat sebagian daya listrik terbuang menjadi panas.

Selain itu, Desain sirkuitnya tidak benar sehingga timbul panas berlebihan. Di sisi lain, komponen yang digunakan kurang sesuai peruntukannya, atau berkualitas rendah

Sementara untuk penggunaan, sebelum dijual STB sudah pasti diuji untuk masa pakainya. Menurut Joegianto, STB yang diproduksi sudah didesain untuk digunakan 24 jam 7 hari tanpa harus ada jeda dimatikan.

“Setahun pun ga masalah nyala terus, sebelum kita buat itu kan ada uji selama misalnya 30 hari non stop jalan di chamber kita. Jadi kalau sempat ke Kudus itu kita punya chamber pengujian. Sebelum barang ke market kita udah tau kemampuan STB,” terangnya.

Sedangkan jika ada stuck di screen boot, Ali menduga penyebabnya dan masalah (bug) dalam desain software. Ini bisa terjadi karena kurangnya pengecekan atau verifikasi yang intensif dalam proses pengembangan softwarenya.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Ramai di Medsos STB TV Digital Meledak, Kominfo Angkat Bicara

(dem)


Pos terkait