GoFood-GrabFood dkk Lesu di 2022, Simak Trennya Tahun Ini!

Jakarta, puncak-media.com Indonesia – Pada tahun 2022, platform online pengiriman makanan (food delivery) mengalami hambatan untuk tumbuh. Ini terjadi salah satunya karena permintaan profitabilitas, terutama sebagian pemain besar sekarang sudah menjadi bagian dari grup yang terdaftar sebagai perusahaan publik.

Lambatnya pertumbuhan food delivery juga disebabkan mulai dibukanya border negara-negara di Asia Tenggara setelah beberapa tahun terakhir dilakukan pembatasan pandemi Covid-19.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut terungkap dalam laporan yang dirilis Momentum Works bertajuk Food Delivery Platform in Southeast Asia (SEA) January 2023.

Dalam laporan tersebut, GMV YoY di Asia Tenggara menunjukkan pertumbuhan hanya 5% pada tahun 2022 atau mencapai sekitar US$16,3 miliar (Rp246 triliun).

Pasar Filipina, Malaysia dan Vietnam mengalami pertumbuhan relatif lebih kecil. Sedangkan pasar terbesar diduduki oleh Indonesia, Thailand dan Singapura. Namun demikian, tiga negara tertinggi juga mengalami penurunan.

Sebagian besar pemain utama memprioritaskan profitabilitas pada tahun 2022, sementara beberapa platform oportunistik pada tahun 2021 menjadi tak relevan.

Sepanjang 2022, terdapat tren makro di pasar food delivery di wilayah Asia Tenggara. Berikut puncak-media.com Indonesia rangkum dari laporan Momentum Works, Kamis (19/1/2023).

1. Kembalinya pasar offline

Dari sisi konsumen, saat kasus Covid-19 sedang tinggi-tingginya, layanan pesan-antar online menjadi alterantif karena restoran banyak yang tutup

Namun, sekarang layanan offline sudah pulih. Aktivitas masyarakat pun sudah kembali seperti semula, di mana konsumen mendapatkan kembali akses penuh untuk makan di tempat.

Sementara dari sisi pedagang, harus mengatur ulang strategi untuk menyediakan opsi makan di tempat. Banyak juga waralaba bermunculan dengan membuka banyak toko baru. Ini menciptakan peluang bagi pedagang online murni untuk turut membuka gerai offline, mirip dengan omnichannel pada retail.

Sedangkan pada jumlah mitra pengemudi, dibukanya kembali tempat makan tidak memberikan pengaruh.

2. Digitalisasi dengan upaya integrasi

Untuk perusahaan makanan, pandemi mempercepat adopsi segudang solusi digital. Hasilnya, banyak dijumpai outlet F&B menggunakan sistem terpisah untuk Point-of-sale (POS), menu pemesanan, pembayaran, shift karyawan, CRM / loyalitas, pemasaran, persediaan manajemen, dan interfacing platform pengiriman.

Ini bisa dibuktikan sendiri dengan melihat meja kasir restoran atau gerai F&B. Mesin pembayaran dan kode QR seperti bertebaran menutup seluruh bagian kasir.

Sementara di China, semuanya sudah terintegrasi menjadi satu platform, seperti yang digunakan di Meituan. Layanan pengiriman makanan seperti Grab, Foodpanda dan LINEMAN Wongnai disebut sudah bergerak ke arah ini.

3. Manfaatkan data transaksi

Platform pengiriman, yang menyimpan transaksi dapat dengan mudah menggabungkan ulasan, peringkat, dan rekomendasi dari konsumen. Ini bertujuan untuk mempermudah pengguna menemukan dan membandingkan pedagang.

Ekspansi platform pengiriman dan perbaikan lebih lanjut berpotensi memungkinkan mereka untuk menangkap lebih banyak nilai melalui penawaran pemasaran dan CRM bagi pedagang.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Inflasi Bikin Konsumen Pelit, Bos Gojek Kasih Solusi Ini

(tib)


Pos terkait