Kisah Hidup Kakek Surasim Bergantung dari Kayuhan Becak Tua

Surasim (79) bukanlah lagi lelaki penuh tenaga yang mampu mengerahkan tenaga besar untuk mengais rezeki. Kini dia seorang laki-laki tua yang tinggal sendiri di Ibu Kota. Umurnya hampir 79 tahun dan bahkan giginya sudah tidak lengkap namun dia dipaksa kehidupan untuk terus bekerja keras.

Bacaan Lainnya

Dengan tenaga yang tersisa, Surasim mencari rezeki dari menjadi pengayuh gerobak becak. Lelaki asal Purbalingga ini memang memilih Jakarta sebagai ladang rezekinya.

“Dulu ke Jakarta ikut adik. Dari waktu PKI sudah narik. Saya mah sendirian di sini ya habis belum punya modal, belum punya di sana kan harus nyangkul di kampung kalau ga punya sawah ya ga betah ya berat hariannya. Biar mahal juga masih kekejar juga di sini. Kalau di kampung ga jual barang juga ga punya uang,” jelas Kakek Surasim kepada tim berbuatbaik.id.

Jalanan Jakarta pun dilaluinya dengan becak berwarna biru mengantar para penumpang. Namun sekarang karena tak boleh ada lagi becak, Surasim pun mengakalinya dengan membuat becaknya selayaknya gerobak untuk mengantar barang.

“Ya dulunya mah ga boleh, cuma kalau dulu kan becak, kan sekarang gerobak becak ga pake tutup. Jadi boleh sama Pak Lurah. Dulu mah ga boleh lagi ada kerudungnya. Sekarang boleh. Zaman dulu mah masih gawat mah abis becaknya. Dulu kan pernah punya becak 10 dibawa kamtib di garuk. Belakangan sih aman kamtib boleh aja asal jangan melanggar peraturan kota yang ga boleh. Kalau dulu mah bebas becak. Misalkan ke jalan raya ga boleh. Jatinegara ga boleh. Bolehnya di lingkungan sini aja,” tukasnya.

Walau dibatasi pergerakannya oleh peraturan, beruntung masih ada warga yang memanfaatkan jasa gerobak becak ini. Terkadang becaknya disewa oleh penjual makanan padang atau pedagang lainnya yang membawa banyak barang. Tarif yang dipatok Kakek Rasim tak tentu namun biasanya setiap 800 km sampai 1 km biasanya dikenai Rp 10 ribu.

“Kalau sehari-hari mah buat makan cukup. Kalau sehari mah ya ga tentu tempo-tempo 30-20 ribu jadi yang banyak risikonya hariannya,” ucap Kakek Rasim yang sering mangkal di Pasar Enjo ini.

Bukan cuma becak tua Rasim yang menemani kesehariannya, ada juga tembok-tembok triplek lusuh di kontrakannya yang berukuran 2×3 m. Sendiri dia habiskan waktu karena sang istri menetap di Purbalingga dan 4 anaknya merantau. Meskipun membayar Rp 300 ribu per bulan nyatanya hunian ini tidak layak karena banyak lubang sana sini yang menyebabkan Kakek Rasim kebasahan di kala hujan.

Tak ada kata nyaman bagi Kakek Rasim di masa tuanya, bahkan untuk merebahkan badan hanya ada kasur lusuh yang menopang tubuh lemah dan rentanya.

Sahabat Baik, tidak kah hati ini tersentuh melihat Kakek Rasim yang mengingatkan pada kakek kita. Yuk, bersama beri kenyamanan dan keringanan untuk Kakek Rasim di masa tuanya. Caranya mudah, cukup klik Donasi di berbuatbaik.id ya.

Kabar baiknya, semua donasi yang diberikan seluruhnya akan sampai ke penerima 100% tanpa ada potongan. Kamu yang telah berdonasi akan mendapatkan notifikasi dari tim kami. Selain itu, bisa memantau informasi seputar kampanye sosial yang diikuti, berikut update terkininya.

Jika berminat lebih dalam berkontribusi di kampanye sosial, #sahabatbaik bisa mendaftar menjadi relawan. Kamu pun bisa mengikutsertakan komunitas dalam kampanye ini.

Yuk jadi #sahabatbaik dengan #berbuatbaik mulai hari ini, mulai sekarang!

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Ini Afriliam, Bocah 2 Tahun Butuh Operasi Rekonstruksi Wajah

(miq/miq)


Pos terkait