Manusia Flores Diduga Masih Eksis, Ahli Ini Ungkap Buktinya

Jakarta, puncak-media.com Indonesia – Para arkeolog yang mencari bukti migrasi manusia modern dari Asia ke Australia menemukan kerangka kecil di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Kerangka kecil tersebut diberi nama Homo floresiensis atau manusia Flores. Seorang ahli antropologi yakin manusia Flores masih hidup dan berkeliaran hingga saat ini.

Bacaan Lainnya

Seorang pensiunan profesor antropologi di University of Alberta mengatakan bahwa bukti kelangsungan hidup spesies itu telah terabaikan. Manusia flores diperkirakan masih hidup sampai sekarang.

Dalam sebuah opini untuk The Scientist yang mempromosikan bukunya berjudul Between Ape and Human, Gregory Forth berpendapat bahwa ahli paleontologi dan ilmuwan lain telah mengabaikan pengetahuan pribumi dan kisah tentang ‘manusia kera’yang hidup di hutan Flores.

“Tujuan saya dalam menulis buku ini adalah untuk menemukan penjelasan terbaik yaitu, yang paling rasional dan paling didukung secara empiris, [yakni] tentang kisah dari suku Lio” tulis Forth dalam tulisan, dikutip dari Ifl Science, Sabtu (21/1/2023).

“Ini termasuk laporan penampakan oleh lebih dari 30 saksi mata yang semuanya saya ajak bicara secara langsung. Saya menyimpulkan bahwa cara terbaik untuk menjelaskan apa yang mereka katakan kepada saya adalah bahwa hominin non-sapiens telah bertahan di Flores hingga saat ini atau baru-baru ini.” imbuhnya.

Spesies Homo floresiensis awalnya dianggap berursia 12.000 tahun. Namun, setelah dianalisis lebih lanjut, ternyata usia kerangka tersebut sekitar 50.000 tahun.

Bentuk tubuhnya membuat banyak orang menyamakan manusia Flores dengan hobbit, merujuk kepada makhluk kreasi J.R.R. Tolkien dalam kisah fiksi The Lord of the Rings dan adaptasi filmnya yang populer. Dalam kisah LOTR, hobbit digambarkan lebih mungil dari kurcaci dan bertelanjang kaki.

Forth menulis bahwa zoologi dari warga lokal suku Lio yang mendiami pulau itu berisi cerita tentang manusia yang berubah menjadi hewan saat mereka bergerak dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Dia samakan makhluk itu dengan sejenis Lamarckisme, pewarisan karakteristik fisik yang didapat.

“Seperti yang diungkapkan oleh penelitian lapangan saya, perubahan yang dikemukakan seperti itu mencerminkan pengamatan lokal tentang kesamaan dan perbedaan antara spesies nenek moyang dan keturunannya yang berbeda,” terangnya.

Ia mengidentifikasi makhluk ini sebagai hewan, tidak memiliki bahasa atau teknologi rumit yang dimiliki manusia. Namun, mereka disebut sangat mirip dengan manusia.

“Bagi suku Lio, penampilan manusia-kera sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya manusia membuat makhluk itu menjadi anomali dan karenanya bermasalah dan mengganggu,” terang Forth.

Saat ini, waktu terdekat hidup makhluk ini sekitar 50.000 tahun yang lalu. Tapi Forth mendesak agar pengetahuan dari para penduduk lokal dimasukkan untuk menyelidiki evolusi hominin.

“Apa yang mereka katakan tentang makhluk itu, ditambah dengan bukti lain, sepenuhnya konsisten dengan spesies hominin yang masih hidup, atau yang hanya punah dalam 100 tahun terakhir.” pungkasnya.

[Gambas:Video CNBC]

(luc/luc)


Pos terkait