Miris! Kasus Bullying di Korea Lebih Parah dari ‘The Glory’

Jakarta, puncak-media.com Indonesia – Drama Korea berjudul The Glory yang tayang di Netflix tengah populer di tengah masyarakat Indonesia. Drama yang dibintangi Song Hye Kyo ini mengikuti kisah seorang korban bullying alias perundungan yang menderita luka fisik dan psikis berat akibat disiksa teman sekolahnya. 

Meski tokoh-tokohnya fiktif, penulis naskah The Glory mengaku bahwa kisah dalam drama tersebut terinspirasi kejadian nyata. 

Bacaan Lainnya

Banyak orang menilai adegan penyiksaan dalam The Glory sangat kejam, namun demikian ternyata kejadian di dunia nyata lebih parah dibandingkan gambaran dalam drama. 

Seorang komisaris sekolah bernama Choi Woo Seong menceritakan adegan bully yang ada dalam drama tersebut tidaklah seberapa ketimbang yang terjadi dalam dunia nyata.

Dalam sebuah wawancara dengan MBC Radio ‘News High Kick; pada 11 Januari, Choi Woo Seong, yang menangani kekerasan sekolah di Kantor Pendidikan Gyeonggi Suwon, menegaskan adegan tangan yang dibakar dengan ‘catokan rambut’ pernah terjadi di sebuah sekolah menengah di Cheongju pada 2006.

Saat itu, media melaporkan bahwa sekelompok siswa sekolah menengah yang dipimpin oleh Kim (saat itu berusia 15 tahun) menyerang A (usia 14) selama kurang lebih 20 hari. Dilaporkan bahwa korban dipukuli dengan tongkat baseball dan disundut dengan catokan rambut di bagian lengan dan dadanya.

Choi Woo Seong menjelaskan lebih lanjut, “Korban saat itu menderita luka bakar yang parah dan tulang ekornya menonjol, sehingga membutuhkan 5 hingga 6 minggu rawat inap,” ujarnya seperti dikutip dari Allkpop




Adegan bullying di drama Korea The Glory. (Tangkapan Layar Trailer Netflix)Foto: Adegan bullying di drama Korea The Glory. (Tangkapan Layar Trailer Netflix)
Adegan bullying di drama Korea The Glory. (Tangkapan Layar Trailer Netflix)

Dia menjelaskan, para pelaku juga mengaku akan menghukum korban dengan merobek keropeng yang terbentuk di bekas lukanya. Woo Seong juga menyatakan intimidasi yang sebenarnya jauh lebih buruk dalam kehidupan nyata.

Meski sudah ada Undang-Undang Kekerasan Sekolah, insiden kekerasan di sekolah tetap saja terjadi. 

Kasus bullying yang berbeda terjadi di asrama Cheonghak-dong terjadi pada 2020 ketika sekelompok gadis menyiksa korban lain dengan memasukkan benda asing ke dalam tubuh korban dan membuatnya meminum air kencing.

Kemudian, kasus kekerasan seksual di Gyeonggi Utara adalah insiden terbaru yang terjadi pada Januari 2022 ketika seorang anak laki-laki berusia 13 tahun menganiaya seorang gadis berusia 9 tahun dalam perjalanan pulang sekolah.

Yang mengerikan, pelaku sengaja membuat balok salju agar terlihat seperti tempat tidur untuk melakukan kejahatan seksual terhadap korbannya. 

Komisaris Choi menyatakan, bahwa dalam kasus-kasus tersebut, semua pelakunya adalah remaja di bawah usia 14 tahun. Ini artinya mereka tidak bisa dihukum seperti orang dewasa. 

Choi menyatakan keprihatinannya sehubungan dengan batas usia sistem peradilan remaja dan tindakan pencegahan kenakalan, sehingga menyarankan agar usia standar peradilan remaja harus diturunkan secara bertahap.

“Saya setuju bahwa (para pelaku) semakin muda dan kejahatan mereka semakin canggih dan kejam, jadi saya setuju bahwa standar usia batas harus diturunkan secara bertahap. Pada saat yang sama, kita sebagai masyarakat harus berupaya untuk mendidik dan mencegah tindakan semacam itu,” paparnya

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Pohon Ikonik di Drakor Ini Mau Dijadikan Monumen Nasional

(hsy/hsy)


Pos terkait