Startup Bodong Dibeli Rp 2,6 Triliun, Bank Wall Street Ketipu

Jakarta, puncak-media.com Indonesia – Startup bodong, Frank, menggocek JPMorgan Chase. Perusahaan investasi AS itu menggugat platform bantuan Frank yang mereka akuisisi September 2021 lalu seharga US$175 juta (Rp 2,6 miliar). Gugatan itu dilakukan karena Frank melakukan penipuan tentang skala nilai dan pengguna startup.

Frank didirikan oleh Charlie Javice pada tahun 2016. Startup itu menawarkan software yang ditujukan untuk membantu proses pengajuan pinjaman pelajar bagi kaum muda Amerika yang mencari bantuan keuangan.

Bacaan Lainnya

Startup yang ingin dijadikan sebagai “Amazon untuk pendidikan tinggi” itu lalu mendapat dukungan dari miliarder Marc Rowan, investor utama Frank menurut Crunchbase, dan pendukung ventura terkemuka termasuk Aleph, Chegg, Reach Capital, Gingerbread Capital, dan SWAT Equity Partners.

Gugatan diajukan akhir tahun lalu di Pengadilan Distrik AS di Delaware, mengklaim bahwa Javice melakukan penipuan terhadap JP Morgan pada tahun 2021 atas kebohongan tentang 4 juta pengguna yang telah mendaftar di startup tersebut.

Ketika JP Morgan meminta bukti selama uji tuntas, Javice diduga membuat daftar pelanggan palsu yang terdiri dari daftar nama, alamat, tanggal lahir, dan informasi pribadi lainnya dari 4,265 juta ‘siswa’ yang sebenarnya tidak ada.

Pada kenyataannya, menurut gugatan, Frank hanya memiliki kurang dari 300.000 akun pelanggan saat itu, demikian dikutip dari Forbes, Senin (16/1/2023).

“Javice pertama kali menolak permintaan JPMC, dengan alasan bahwa dia tidak dapat membagikan daftar pelanggannya karena masalah privasi,” kata gugatan tersebut.

“Setelah JPMC bersikeras, Javice memilih untuk menemukan beberapa juta akun pelanggan Frank dari seluruh jaringan.”

Gugatan tersebut mencakup tangkapan layar presentasi yang diberikan Javice kepada JP Morgan yang menggambarkan pertumbuhan Frank dan mengklaimnya memiliki lebih dari 4 juta pelanggan.

Adapun, pada minggu yang sama, JP Morgan mengajukan gugatan terhadap Javice, tetapi Javice justru mengajukan gugatan balik terhadap JP Morgan. Hal itu dilakukan untuk menyangkal jutaan kompensasi yang harus dia bayar.

Chief Growth Officer Frank Olivier Amar juga disebutkan dalam pengaduan JP Morgan. Dituduh bahwa Javice dan Amar pertama kali meminta seorang insinyur top di Frank untuk membuat daftar pelanggan palsu.

Ketika JP Morgan mengakuisisi Frank pada September 2021, aksi tersebut menjadikan Javice, Amar, dan staf Frank lainnya sebagai karyawan. Javice adalah lulus dari Wharton di University of a Pennsylvania dan masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 di bidang keuangan pada tahun 2019.

Sejak Frank diakuisisi, dia menjadi direktur pelaksana di JP Morgan yang mengawasi produk yang berfokus pada siswa di Chase, menurut LinkedIn-nya.

Javice menerima hampir US$10 juta sebagai bagian dari merger, menegosiasikan tambahan bonus retensi US$20 juta yang akan dibayarkan setelah tanggal vesting berikutnya jika dia tetap bereputasi baik.

Amar, yang diangkat menjadi direktur eksekutif solusi siswa di JP Morgan, menurut LinkedIn-nya, menerima sekitar US$5 juta dari kesepakatan itu dan juga menawar bonus retensi US$3 juta, kata pengaduan itu. Gugatan itu dilaporkan sebelumnya oleh Wall Street Journal.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Data Investasi Startup Terbaru, Sinar Mas Sampai Sandra Dewi

(dem)


Pos terkait