Startup Ini Mau Bangun Pabrik Baterai di RI, Keburu Bangkrut

Jakarta, puncak-media.com Indonesia – Nama Britishvolt baru saja disebut oleh Menteri Investasi Bahlil Lahadalia siap berinvestasi pada ekosistem electric vehicle (EV) di Indonesia. Startup baterai kendaraan listrik asal Inggris itu katanya akan membangun pabrik di Indonesia dan sudah dalam tahap finalisasi.

Namun kenyataannya Britishvolt sedang dalam kebangkrutan. Pada Selasa (17/1), Britishvolt telah mengajukan proses bangkrut ke pengadilan setempat.

Bacaan Lainnya

Proses kebangkrutan diajukan saat mereka tengah berjuang mengumpulkan dana untuk pabrik baterai kendaraan listrik utama di Inggris utara.

Kegagalan Britishvolt menandai langkah mundur untuk sektor mobil Inggris karena pejabat industri dan pakar melihat pabrik baterai EV domestik penting untuk menjaga agar produksi mobil Inggris tidak beralih ke daratan Eropa.

Britishvolt telah melakukan pembicaraan dengan calon pembeli setelah mendapatkan pendanaan jangka pendek pada bulan November untuk membantunya tetap bertahan.

Tawaran yang bersaing sekitar 30 juta pound[Rp 558 miliar] dari tiga investor terafiliasi Indonesia, DeaLab Group ditolak oleh kreditur Britishvolt.

“Kami tetap berharap Britishvolt akan menemukan investor yang cocok dan kecewa mendengar bahwa ini tidak mungkin,” kata departemen bisnis Inggris dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Reuters, Kamis (19/1/2023).

Departemen itu mengatakan akan terus bekerja dengan otoritas lokal dan calon investor untuk mendapatkan hasil terbaik untuk situs tersebut.

Sebuah tim dari bagian restrukturisasi kantor akuntan Ernst & Young, EY-Parthenon, telah ditunjuk sebagai administrator.

Administrator mengatakan Britishvolt telah masuk ke administrasi karena investasi ekuitas yang tidak mencukupi untuk penelitian dan pengembangan situsnya yang sedang berlangsung.

Mayoritas dari 300 staf Britishvolt diberitahu bahwa mereka diberhentikan dengan segera, kata dua sumber yang mengetahui masalah tersebut.

“Berita bahwa Britishvolt mengajukan administrasi sangat mengecewakan, dan merupakan pukulan bagi Inggris menuju transportasi yang lebih bersih dan lebih murah,” kata Ben Nelmes, kepala eksekutif perusahaan riset transportasi Inggris, New Automotive.

Pabrik baterai listrik




Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahaladia dalam acara Indonesia Net Zero Summit 2022 : Decarbonization at All Cost. (Tangkapan Layar via Youtube Kadin Indonesia)Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahaladia dalam acara Indonesia Net Zero Summit 2022 : Decarbonization at All Cost. (Tangkapan Layar via Youtube Kadin Indonesia)

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengungkapkan bahwa beberapa perusahaan asing lagi yang bakal masuk berinvestasi di bidang ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB). Salah satunya adalah Britishvolt.

“Jadi betul ada investasi baru dari Inggris akan masuk ekosistem EV battery dan sudah masuk sekarang,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (11/1/2023).

Menurut dia, izin investasi sedang dalam tahap finalisasi. Sedangkan untuk lokasi berinvestasi hampir klir, tanpa mengelaborasi titik dimaksud.

Britishvolt adalah perusahaan manufaktur pembuat baterai lithium untuk KBLBB yang berasal dari Inggris. Mengutip BBC, nilai kesepakatan investasi mencapai 160 juta pounds atau setara Rp 3,01 triliun dengan kurs (Rp 18.870 per poundsterling).

Saat ini, sudah beberapa negara yang sudah melakukan investasi pada ekosistem pembuatan baterai KBLBB. Bahlil menyebut seperti LG senilai US$ 9,8 miliar yang berasal dari Korea Selatan dan CATL sekitar US$ 5,2 miliar dari China.

Lalu rencananya ditambah Britishvolt dari Inggris, BASF dan Volkswagen dari Jerman, serta Foxconn dari Taiwan. Bahkan Bahlil menyebut ada dua negara lagi yang minat masuk pada investasi ini.

“Dan beberapa investasi sekarang didorong dan sudah tahap 80% dengan Jepang dan Amerika. Nama perusahaannya belum saya sebut karena belum diteken barang itu,” kata Bahl

[Gambas:Video CNBC]

(dem)


Pos terkait