Tak Semuanya Indah, Ini 3 Sisi Kelam Kehidupan di Swiss

Jakarta, puncak-media.com Indonesia – Swiss adalah salah satu negara maju di Eropa yang terkenal dengan sejumlah keunggulannya, yaitu sebagai salah satu negara paling bersih, teraman, dan terindah di dunia.

Menurut Environmental Performance Index (EPI) 2022, Swiss menduduki peringkat sembilan sebagai negara terbersih di dunia dengan skor 65.90. Sementara itu, menurut Global Peace Index (GPI) 2022, Swiss menempati urutan ke-11 dengan skor 1.357.

Bacaan Lainnya

Namun, di balik kebersihan, keamanan, dan keindahan tersebut, ada banyak biaya besar yang harus dikeluarkan oleh warga negaranya untuk bisa bertahan hidup. Tidak hanya untuk biaya kehidupan sehari-hari, mereka juga dibebankan banyak biaya untuk bisa bertahan hidup hingga usia pensiun.




A general view shows 100,000 postcards with messages against climate change, sent by young people from all over the world and stuck together to break the Guinness World Record of the biggest postcard on the Jungfraufirn, the upper part of Europe's longest glacier, the Aletschgletscher, near Jungfraujoch, Switzerland November 16, 2018.   REUTERS/Arnd WiegmannFoto: Jungfraujoch, Swiss 16 November 2018. REUTERS / Arnd Wiegmann

Berikut tiga fakta mengenai sisi kelam Swiss sebagai negara termahal di dunia, dilansir dari berbagai sumber.

1. Banyak orang ‘berdarah-darah’ karena biaya hidup yang terlampau mahal

Swiss terkenal sebagai salah satu negara dengan biaya hidup paling mahal di dunia. Berdasarkan data salah satu database yang membuat peringkat kota-kota di dunia berdasarkan statistik, Numbeo, pada Januari 2023 enam kota Swiss dari 10 kota di dunia masuk ke dalam daftar kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Enam kota tersebut adalah Basel, Zurich, Lausanne, Zug, Bern, dan Ganeva.

Meskipun rata-rata pendapatan masyarakat Swiss adalah US$66.567 atau sekitar Rp996,5 juta (kurs Rp14.970/US$) pertahun, gaji tersebut dinilai sebagai angka yang pas-pasan akibat tingginya biaya hidup di negara itu.

Salah satu biaya paling besar yang dikeluarkan oleh penduduk Swiss adalah biaya sewa rumah. Menurut Internations.org, rata-rata harga sewa rumah di Swiss adalah 2 ribu CHF atau sekitar Rp32 juta (kurs Rp16.230/CHF) perbulan. Harga tersebut dibanderol untuk apartemen dengan satu kamar tidur.

Selain itu, berdasarkan data Budget Direct pada 2021, Swiss tercatat sebagai negara dengan rata-rata biaya masuk tol termahal di dunia, yaitu US$26,52 atau sekitar Rp397 ribu.

Lalu, berdasarkan hasil survey Money.co.uk pada 2022, rata-rata masyarakat Swiss menghabiskan biaya US$48.16 atau sekitar Rp721 ribu per minggu untuk belanja bahan makanan. Tak heran, 300 gram daging ayam di Swiss dibanderol dengan harga Rp109 ribu dan Rp71 ribu untuk 100 gram daging sapi.

2. Banyak anak muda mewarisi utang asuransi




TOPSHOT - Young men jump into the river Aare on June 21, 2017 in Bern.

Europe sizzled in a continent-wide heatwave with London bracing for Britain's hottest June day since 1976 as Portugal battled to stamp out deadly forest fires. Cooler weather was aiding their efforts, but thermometers were still hovering around 35 degrees Celsius (95 degrees Fahrenheit) -- a level matched across oven-like swathes of Europe, including Italy, Austria, the Netherlands and even alpine Switzerland. / AFP PHOTO / Fabrice COFFRINI        (Photo credit should read FABRICE COFFRINI/AFP via Getty Images)Foto: AFP via Getty Images/AFP Contributor
TOPSHOT – Young men jump into the river Aare on June 21, 2017 in Bern. / AFP PHOTO / Fabrice COFFRINI (Photo credit should read FABRICE COFFRINI/AFP via Getty Images)

Dilansir dari Swiss Info, biaya asuransi kesehatan wajib di Swiss rata-rata meningkat hingga 6,6 persen pada 2023. Angka kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2010.

Rata-rata premi asuransi di Swiss akan meningkat menjadi 335 CHF atau sekitar Rp5,4 juta perbulan. Bagi orang dewasa, biaya premi asuransi per bulannya adalah 397 CHF atau sekitar Rp6,4 juta.

Seluruh masyarakat Swiss tanpa terkecuali diwajibkan untuk memiliki asuransi yang akan digunakan untuk biaya perawatan kesehatan dasar. Bahkan, seseorang akan dianggap memiliki utang dan akan terus ditagih jika tidak membayarnya.

Menurut laporan salah satu media Swiss, Le News, seseorang yang telah berusia 18 tahun sudah diwajibkan untuk membayar asuransi. Bila ada orang tua yang tidak membayar asuransi maka tagihan akan dialihkan kepada anaknya yang telah berusia 18 tahun.

Salah satu perusahaan asuransi di Swiss mengaku secara otomatis akan memberikan peringatan pembayaran dan mengejar secara hukum kepada orang berusia 18 tahun bila mereka tidak membayar asuransi.

Salah satu ahli hukum di Swiss, Claudia Odermatt mengungkapkan bahwa banyak anak-anak muda di Swiss yang mewarisi dan harus menanggung utang asuransi orang tuanya. Tidak tanggung-tanggung, utang-utang tersebut umumnya bernilai 10 ribu CHF atau sekitar Rp162 juta hingga 24 ribu CHF atau sekitar Rp389 juta.

Ketika seseorang memiliki utang, hal itu bisa menghalangi dia untuk mendapatkan pekerjaan hingga menyewa rumah. 

3. Banyak lansia tinggalkan Swiss karena tunjangan pensiun yang mepet




A general view shows Davos in the evening ahead of World Economic Forum (WEF), Switzerland, January 20, 2019. REUTERS/Arnd WiegmannFoto: World Economic Forum (REUTERS/Arnd Wiegmann)
A general view shows Davos in the evening ahead of World Economic Forum (WEF), Switzerland, January 20, 2019. REUTERS/Arnd Wiegmann

Di Swiss, selain asuransi kesehatan, setiap warga negaranya juga diwajibkan untuk membayar iuran asuransi yang cukup tinggi untuk memperoleh tunjangan pensiun di hari tua.

Mengutip laman ch.ch, besar tunjangan yang akan diterima oleh pensiunan adalah 1.225 CHF atau sekitar Rp19,8 juta sampai 2,450 CHF atau sekitar Rp39,7 juta perbulan.

Untuk memperoleh biaya pensiun maksimum (2,450 CHF) maka seseorang harus memiliki rata-rata pemasukan sekitar 86.040 CHF atau sekitar Rp1,3 miliar pertahun. Semakin tinggi gaji dan kontribusi asuransi seseorang, semakin tinggi pula dana pensiun yang akan diperoleh.

Meski demikian, tetap saja tunjangan hari tua yang diterima lansia tidak cukup untuk membiayai hidup mereka. Karena itu, banyak lansia yang akhirnya meninggalkan Swiss dan pindah ke negara lain dengan biaya hidup lebih murah. 

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


10 Kota dengan Biaya Hidup Termahal di RI, Ada Tempatmu?

(hsy/hsy)


Pos terkait