Tsunami PHK Massal, Sektor Digital Ini Duluan Kiamat

Jakarta, puncak-media.com Indonesia – Ketua Dewan Pembina idEA Rudiantara menyebut bahwa PHK massal yang terjadi di industri startup teknologi merupakan pembahasan yang seksi, sehingga sering diberitakan di media massa. Padahal, menurutnya di bisnis konvensional juga terjadi hal yang sama. Pada 2022 justru industri konvensional terjadi PHK di atas 100 ribu orang.

Para pelaku startup, kata mantan Menkominfo itu, masih fokus pada pertumbuhan, di mana para investor juga mulai menuntut agar mereka bisa mencapai laba atau profitabilitas.

Bacaan Lainnya

Sehingga mereka melakukan penyesuaian dari model bisnis dan efisiensi sudah pasti terjadi karena ebitda perusahaan harus positif. Saat melakukan efisien berbagai macam biaya coba diturunkan, dan pengurangan dari sumber daya manusia merupakan sesuatu yang normal.

“Kita tau secara global startup itu yang bisa melewati 5 tahun pertama hanya 10 persen, sedangkan yang bisa melewat 10 tahun tidak lebih dari 5 persen. Jadi dalam 5 tahun startup itu 90 persen ya gugur. Entah itu di early stage, middle stage, mungkin di latter stage. ” kata Rudiantara dalam segmen Profit di puncak-media.com Indonesia, Selasa (24/1/2023).

Ekosistem pendukung bisnis inti duluan kena

Namun ia menilai, startup melakukan PHK tidak langsung melakukan di bisnis intinya, tapi di ekosistem yang mereka miliki. Seperti pada e-commerce, jika startup tersebut punya bisnis logistik dan sebagainya, ekosistem ini yang akan kena terlebih dahulu.

E-commerce kan tidak bisa berdiri sendiri dia merupakan super apps, kadang-kadang ada finance, ada logistik, nah ini efisiensi di ekosistemnya bukan core bisnis sehingga terjadi PHK di ekosistem tersebut,” jelasnya.

Sementara soal pendanaan di startup Indonesia tidak bisa terlepas dari kondisi ekonomi global. Karena Venture Capital (VC) yang masuk ke Indonesia kebanyakan dari luar negeri, sehingga itu mempengaruhi ketersediaan dana untuk startup.

Dan seperti yang telah disebutkan, saat ini VC sudah fokus pada pertumbuhan demi mencapai profitabilitas, ebitda dan cash flow yang positif.

Di satu sisi menurut Wakil Kepala Kajian Ekonomi Digital dan Ekonomi Tingkah Laku LPEM FEB UI, Prani Sastiono, nilai digital commerce RI masih cukup tinggi dibandingkan negara-negara lain. Sehingga masih banyak investor yang akan datang ke Indonesia untuk investasi di startup.

“Tapi akan ada proses selection, hanya yang perusahaan yang punya profitability yang mungkin akan menerima dana.” tuturnya.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Bos Sinar Mas Buka-Bukaan Soal Badai PHK Startup

(tib)


Pos terkait