Isu ‘Pocong Begal’ di Denpasar Viral, Polisi Pastikan Hoaks Hasil Rekayasa Teknologi AI

hoaks pocong begal Denpasar foto AI Polresta Denpasar 2026

Kabar hoaks pocong begal Denpasar yang meresahkan warga pada akhir Mei 2026 akhirnya terungkap setelah Polresta Denpasar melakukan penyelidikan intensif. Foto viral yang menampilkan sosok menyerupai pocong di kawasan Monang Maning, Denpasar Barat, dipastikan merupakan hasil rekayasa digital menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pengakuan remaja pembuat foto editan serta pemeriksaan tiga saksi menjadi kunci terungkapnya kasus ini.

Kronologi Beredarnya Foto Palsu

Peristiwa bermula pada Sabtu, 30 Mei 2026, sekitar pukul 14.00 WITA. Sebuah unggahan di akun Instagram pribadi dengan cepat menyebar dan viral di berbagai platform media sosial. Unggahan tersebut menampilkan foto gelap yang memperlihatkan sosok menyerupai pocong berdiri di sebuah gang di kawasan Monang Maning, Denpasar Barat. Fenomena hoaks pocong begal Denpasar ini langsung memicu berbagai spekulasi liar, mulai dari dugaan prank iseng hingga kekhawatiran bahwa sosok tersebut adalah pelaku kejahatan yang menyamar untuk melakukan aksi perampokan di malam hari.

Penyelidikan Polresta Denpasar Terkait Hoaks Pocong Begal Denpasar

Menindaklanjuti informasi hoaks pocong begal Denpasar yang meresahkan publik, jajaran Unit Reskrim Polsek Denpasar Barat segera turun tangan. Tim langsung melakukan penelusuran sumber informasi sekaligus pengecekan di lokasi yang disebut-sebut sebagai tempat kejadian. Hasilnya, polisi berhasil mengidentifikasi dan meminta keterangan dari tiga orang saksi yang diketahui masih di bawah umur, berinisial N, D, dan B, sebagai aktor di balik penyebaran kabar bohong tersebut.

Penyelidikan lebih mendalam mengungkap fakta yang berbeda. Bukan D atau N, melainkan saksi B yang mengakui sebagai pembuat asli foto tersebut. Kasi Humas Polresta Denpasar, Iptu I Gede Adi Saputra Jaya, menjelaskan bahwa B mengakui telah mengedit sebuah foto gang di sekitar tempat tinggalnya di kawasan Monang Maning dengan menambahkan gambar sosok pocong menggunakan aplikasi berbasis AI. Setelah selesai diedit, foto tersebut diunggah ke status media sosial pribadinya. Sehari kemudian, B mengetahui foto hasil editan itu telah tersebar luas di media sosial dengan narasi hoaks pocong begal Denpasar yang memicu kepanikan warga.

Dari hasil pengecekan lapangan dan pemeriksaan terhadap para saksi, polisi memastikan tidak pernah terjadi peristiwa begal yang melibatkan sosok pocong maupun kejadian serupa di wilayah Monang Maning.

Klarifikasi Resmi Polresta Denpasar Soal Hoaks Pocong Begal Denpasar

Dengan bukti yang kuat, Polresta Denpasar menggelar konferensi pers pada Senin (1/6/2026). Iptu I Gede Adi Saputra Jaya dengan tegas menyatakan bahwa informasi hoaks pocong begal Denpasar tersebut adalah berita bohong alias hoaks.

“Dari hasil penyelidikan yang kami lakukan, dipastikan bahwa informasi mengenai adanya hoaks pocong begal Denpasar tidak benar. Foto yang beredar merupakan hasil rekayasa digital menggunakan teknologi AI,” ujarnya dalam konferensi pers.

Beliau juga mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi di media sosial. “Jangan mudah percaya dengan informasi yang belum jelas kebenarannya. Pastikan terlebih dahulu sumber informasi tersebut sebelum menyebarkannya,” pungkasnya.

Kasus Serupa dan Ancaman di Era Kecerdasan Buatan

Kasus viralnya hoaks pocong begal Denpasar ternyata bukan kasus tunggal. Hanya berselang beberapa hari, kasus serupa membuat resah warga di wilayah Kecamatan Gandus, Palembang. Seorang pemuda berusia 23 tahun bernama Febrianto alias Ebi ditangkap polisi setelah foto editan AI yang menampilkan sosok pocong di sebuah gang rumah tersebar luas. Kapolda Jawa Tengah bahkan sempat melakukan patroli siber dan pengecekan lapangan untuk menyelidiki isu serupa yang melanda sejumlah daerah.

Fenomena ini bukan sekadar kasus hukum, tetapi juga persoalan psikologis. Guru Besar Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, menilai bahwa kasus hoaks pocong begal Denpasar merupakan modus lama yang memanfaatkan ketakutan kultural masyarakat pada sosok mistis. “Ini adalah modus lama yang memanfaatkan ketakutan kultural masyarakat pada sosok pocong,” katanya dalam analisisnya.

Secara psikologis, masyarakat lebih cepat merasa takut daripada mencari bukti. Menurut Cognitive Behavioral Model Theory of Anxiety, kecemasan lahir dari hubungan antara pikiran, emosi, tubuh, dan perilaku. Seseorang melihat foto pocong, membaca narasi bahwa itu adalah “begal”, lalu muncul pikiran otomatis: “Jangan-jangan itu dekat rumah saya.”

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah menilai bahwa penyebaran hoaks, disinformasi, hingga teknologi deepfake kini menjadi ancaman serius terhadap ketahanan nasional Indonesia. Kemajuan teknologi seperti AI turut mempercepat penyebaran berita palsu, karena konten deepfake yang dihasilkan semakin sulit dibedakan dari konten asli.

Sebagai langkah antisipasi, masyarakat sebagai pengguna media sosial harus lebih cerdas, kritis, dan bijak. Sebelum membagikan informasi, terutama konten visual yang belum jelas sumbernya, lakukanlah verifikasi data. Cek terlebih dahulu kebenarannya ke sumber resmi atau platform fact-checking terpercaya. Jangan sampai kita ikut menjadi bagian dari rantai penyebaran hoaks pocong begal Denpasar atau konten palsu lainnya yang dapat meresahkan orang banyak.