Candi Losari ditemukan secara tidak sengaja pada 11 Mei 2004 oleh Muhammad Badri saat menggali saluran irigasi di kebun salak. Cangkulnya membentur benda keras yang tersusun rapi di dalam tanah. Struktur batu tersebut ternyata merupakan bagian dari candi Hindu berusia lebih dari 1.200 tahun. Artikel ini akan mengulas secara komprehensif mengenai Candi Losari, mulai dari sejarah penemuan, temuan artefak berharga, hingga panduan wisata berdasarkan data Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.
1. Sejarah Penemuan Candi Losari
Muhammad Badri awalnya mengira benda yang ditemukannya adalah batu biasa. Namun, saat galian semakin dalam, struktur batu yang tersusun rapi mulai terlihat jelas. Penemuan ini mengungkap keberadaan candi Hindu yang terkubur sempurna hingga kedalaman 4 hingga 5 meter.
Candi ini tidak ditemukan di permukaan tanah, melainkan terkubur akibat letusan dahsyat Gunung Merapi berabad-abad lalu. Butuh waktu hampir seribu tahun hingga petani kebun salak tersebut menemukannya kembali pada tahun 2004.
2. Letusan Merapi dan Candi Losari
Para arkeolog memperkirakan Candi Losari dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Pada zaman keemasannya, candi ini berdiri kokoh di permukaan tanah dengan satu candi induk utama, tiga candi perwara, dan tiga candi pendamping.
Sekitar tahun 1006 Masehi, Gunung Merapi mengalami erupsi dahsyat yang meluluhlantakkan kawasan sekitarnya. Material vulkanik dan lahar dingin membanjiri kawasan, mengubur seluruh kompleks percandian secara utuh.
Letusan ini menyebabkan situs ini berada di posisi lebih rendah dari permukaan tanah sekitarnya. Kondisi ini membuatnya sering terendam air saat musim hujan tiba.
3. Temuan Harta Karun Candi Losari 2026
Pada Selasa, 21 April 2026, tim juru pugar dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X menemukan sebuah kotak Peripih saat melakukan pemugaran lapisan ke-9. Di dalamnya, terdapat selembar kepingan logam yang diduga kuat terbuat dari emas asli.
Tak hanya itu, dua blok arca yang diduga merepresentasikan Dewa Surya juga ditemukan terkubur di bawah lantai, sekitar tiga lapis dari permukaan. Temuan ini menjadi bukti kekayaan arkeologis yang masih tersimpan di situs ini.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kabupaten Magelang, Didik Muhamad Akbar, memastikan bahwa logam yang ditemukan adalah kepingan emas asli. Hal ini lumrah ditemukan pada peripih candi kuno di Indonesia sebagai bagian dari ritual keagamaan.
4. Arsitektur Candi Losari
Meski masih dalam pemugaran yang ditargetkan selesai Oktober 2026, wisatawan sudah dapat menikmati keindahan candi induk yang telah terekspos. Candi ini terdiri dari satu candi induk berukuran 4,5 x 4,5 meter yang menghadap ke arah timur.
Di depannya terdapat tiga candi perwara dengan ukuran masing-masing 2,58 x 2,58 meter. Struktur unik ini menunjukkan pola arsitektur yang khas dari peninggalan Kerajaan Mataram Kuno.

Baca juga: cara traveling murah ke thailand untuk pemula
5. Relief dan Arca Candi Losari
Di candi induk, pengunjung dapat melihat relief arca Mahakala dan relief gajah yang detailnya masih cukup jelas terlihat. Motif hias yang ada tidak jauh berbeda dengan candi-candi peninggalan Mataram Kuno lainnya.
Candi Sambisari dan Candi Kedulan yang juga tertimbun material vulkanik Merapi memiliki kemiripan arsitektur. Persamaan ini menunjukkan standar pembangunan yang konsisten pada masa tersebut.
6. Lokasi dan Akses Candi Losari
Candi Losari terletak di Dusun Losari, Desa Salam, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Koordinat GPS situs ini berada di 110 derajat 11 menit 07 detik Bujur Timur dan 07 derajat 34 menit 38,1 koma 1 detik Lintang Selatan.
Akses dari Yogyakarta dapat ditempuh dengan menelusuri Jalan Jogja-Magelang hingga melewati Jembatan Kali Krasak. Dari jalan raya, terdapat papan petunjuk arah ke candi yang mudah dilihat oleh pengunjung.
Lokasi candi hanya berjarak sekitar 50 meter dari jalan utama dusun. Kondisi akses jalan sudah baik dan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat hingga area parkir yang tersedia.
7. Panduan Berkunjung Candi Losari
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada pagi hari pukul 08.00 hingga 10.00. Pada waktu ini, udara masih sejuk dan cahaya matahari optimal untuk fotografi. Pengunjung disarankan mengenakan pakaian yang nyaman dan alas kaki yang mendukung karena akan banyak berjalan.
Harga tiket masuk Candi Losari adalah gratis. Pengunjung hanya perlu melapor dan mengisi buku tamu di pos penjagaan yang tersedia. Kebijakan ini membuat situs ini sangat terjangkau bagi semua kalangan.
Karena masih dalam proses pemugaran, beberapa area mungkin ditutup untuk umum. Namun, pengunjung tetap dapat menikmati keindahan bangunan utama yang sudah terekspos dengan baik.
Candi Losari bukan sekadar tempat wisata biasa, melainkan ruang di mana peradaban bisa bangkit kembali dari dalam tanah. Situs ini menjadi bukti ketangguhan warisan budaya Nusantara yang bertahan selama berabad-abad.
Semua artefak berharga telah diamankan di Kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X di Klaten, Jawa Tengah. candi Hindu di Jawa Tengah terus menjadi destinasi menarik bagi pecinta sejarah dan budaya. Balai Pelestarian Cagar Budaya berkomitmen untuk melestarikan situs ini agar dapat dinikmati generasi mendatang.